Showing posts with label Life Poetry. Show all posts
Showing posts with label Life Poetry. Show all posts

Mencari Damai

Tak ada lagi kepingan pagi
Tak ada lagi embun membasi
Matahari bukan sabahat lagi
Malam pun menusuk hati

Panas nya siang hari
Dingin nya malam hari
Kian menyiksa diri
Kian memaksa tuk akhiri

Damai kian menjauh
Sepi pun merambat pergi
Riuh jalanan memekak telinga
Tangis sunyi menyesak dada

Ingin ku menjauh pergi
Melangkah jauh menyepi
Mencari sunyi entah dimana
Meraih kembali damai yang pergi

Ths '98
030511

Kembalinya Sang Surya

Hari ini begitu cerah kala sang surya menaungi dengan cahayanya.
Membiaskan embun pagi di dedaunan.
Kidung alam senandung riang.
Burung menari-nari bermain ditepian angin.

Telah lama tak kurasakan lagi kehangatan ini.
Mentari telah kembali menyinari bumi.
Dan aku kini tak lagi merasa sendiri.
Kicau merdu dan semerbak harum menemani.

Entah sampai kapan kan kurasakan indah dunia.
Entah sampai kapan kan kunikmati surga dunia.
Ketika raga menua dan hidup harus diakhiri.
Ketika kusadar bahwa aku tak abadi.

Ths '98
160209

Kasat

Jiwa tak selalu ada dalam raga.
Ingin menuai benih takdir terabaikan.
Melawan kata dan niat terbelenggu sukma.
Timbul dan tenggelam dalam ombak lautan.

Menyusuri keindahan tak kasat mata.
Idamkan kebahagiaan semu tak kunjung tiba.
Aku lelah, aku letih menunggunya.
Aku terbawa, hanyut dan terlena.

Koyak hati ini dalam penantian.
Tak mampu melanjutkan petualangan.
Terjatuh dan tak ingin bangkit.
Kenangan nya jangan pernah diungkit.

[Ths '98 ~ 310109]

Jahanam Cinta

Begitu cintakah engkau kepadaku ketika ku akan pergi kau melarangku.
Begitu sayangkah engkau kepadaku hingga kematianku membuatmu menangis.
Jangan ratapi aku, jangan tangisi aku, wahai kau jahanam cinta.
Jauhi dan pergilah dari hidupku dan jangan pernah kau kembali.

Hidup indah ini telah terusik oleh bangsat bangsat tak bermoral.
Orang orang biadab perusak martabat tak tahu arti benci.
Lelah aku menangisi mu, kering air mata ini.
Janganlah kau datang tuk berikan penderitaan baru untukku.

Ths '98
230908

Tak Berbalas

Mungkin kau tak sadar akan arti sebuah keinginan.
Menjalani arti kehidupan telah membuat kau menderita.
Ku tau akan hampa dirimu yang coba ku isi.
Meski kau tolak karena ku tak pantas untukmu.

Ku ingin kau mengerti akan makna langkah langkah mu.
Tanpa ku bermaksud menyakitimu lebih dalam.
Aku hanya berusaha tuk menyakinkan mu akan tulusnya sebuah pemberian ini.

Jangan kau hentikan langkahmu.
Lanjutkan sisa sisa perjalanan mu, semakin dekat terlewati waktu.
Wujudkan lah mimpi indah mu, termakan malam kelam menyedihkan.
Kan kutemani bayangmu tuk menggapai hasratmu.

Ths '98
220908

Kosong

Hati yang terluka entah kapan kan terobati.
Mengikis bebatuan jiwa tak pernah akan habis.
Lekang waktu yang kan selalu menepi tak terelakkan.
Relung hampa kian kosong bila kau menyentuh kaki langit di ujung jalan.
Asa yang terbias binar kebencian mulai padam tertiup angin sepi.
Menelusur lembah kemunafikan tak berdasar terlewati maut kelam.
Menepi dan menyepi, menoreh taring nanar.
Kalbu tertutup kabut ratap membaur tawa.
Khayal mega kugapai samar indahnya pelangi.

Ths '98
160908

Gersang

Berteriak... Hening......
Berujar... Diam......
Bercengkerama... Sepi......
Bertatapan... Kosong......

Sepi yang kualami tak terbatas ruang dan waktu.
Ingin ku teriakkan tapi suara ku menolak tuk muncul.
Aku seolah padang tandus tak tersentuh hujan berabad lamanya.
Kering dan hening.

Hanya semak belukar yang selalu setia menemani malam ku.
Tanpa tempat tuk berteduh.
Menghindari badai, hujan dan terik matahari.
Bak gersang nya ladang ku, menolak tuk bersemi.

Ths '98
110908

Hitam

Hitam ku hitam tetap hitam.
Kulihat hitam yang sangat hitam.
Walau hitam tak berarti gelap.
Hitam ku hitam, hitam ku gelap.

Hitam ku berbalut kelam.
Kian hitam dikala malam.
Hitam ku hitam semakin kelam.
Tak terbias cahaya temaram.

Ths '98
070908

Memaksa Tuk Akhiri

Menghapus jejak terbias nafsu
Temaram memudar bayangan berlalu
Seolah patah bak dahan kering
Menatap kedepan tak akan berpaling

Memaksa untuk mengakhiri
Dengan keputus asaan melangkah pergi
Tertunduk dan membisu
Lahirkan rasa benci tak ingin berlalu
kembali

Senandung sepi riang bernyanyi
Terusik damai meratap bahagia
Menepis bising keramaian dunia
Menelantar asa menantang abadi

Keringat terus mengalir
Sertai letih tak kunjung berakhir
Menelan dahaga menyantap lapar
Menghalau kemarau idamkan hujan

Menghela pelana menggapai surga
Terbius khayal meraba sang mega
Retak tanah berakhir bencana
Tenggelam dalam laut kemunafikan

Ths '98
040908

Letih

Terperangkap dalam kelana tak bertepi.
Menjejakkan kaki pada jalanan tak berujung.
Menantang badai menyibak kabut.
Terus melangkah tanpa arah dan tanpa tujuan.

Kegalauan hati selalu menemani perjalanan.
Sepi dan sendiri tetap kulangkahkan kaki.
Penat dan letih makin menjadi diterpa terik sang mentari.
Tak kutemukan mata air, dahagapun tak terelakkan.

Menyongsong hari demi hari selalu begini.
Terus mencari tempat tuk berteduh tuk rebahkan tubuh penat ini.
Terus kuberjalan sambil kumencari.
Walau kaki ini semakin berat dan langkah ini semakin lunglai.

Kapan perjalanan ini kan berakhir.
Tetap ku lihat jalanan ku masih tak bertepi.
Dimanakah tempatku berhenti.
Terus kucari tapi pandangan ini tertutup kabut.

Ths ‘98
270808

Ruang Hati

Aku tak tahu apakah berjuta maaf akan cukup.
Setelah sekian banyak salah yang telah aku perbuat.
Tanda mata yang kau berikan padaku.
Telah tersimpan dengan baik di hatiku.

Aku tak akan bisa melupakan kau yang ku sayang.
Walau mungkin kau akan pergi dari sisiku.
Kejar bahagia dalam impian nyata.
Berbagi cerita cinta menyesak dada.

Apa takdir begitu kejam kepadaku hingga waktu pun tak memihakku.
Tak berlalu malam, tak hadir pagi ku.
Tetap selalu menanti rindu tak bertepi.
Menyepi dan sendiri.

Ths '98
231206

Bencana

Kala ia datang
Semua orang jadi bimbang
Binasakan apapun yang dipandang
Buat yang ada menjadi hilang

Sisakan pedih
Tinggalkan pedih
Membuat semua merasa sedih
Jadikan kita merasa tersisih

Suara tangis
Teriak histeris
Para manusia yang tak berdaya
Membuat ia semakin merajalela

Bayang-bayang akan dirinya
Rasa trauma tertinggal dalam kita
Tak akan pernah hilang selamanya
Walau kita selalu berusaha melupakannya

Ths ‘98
080405

Sayap

Ingin aku terbang ke angkasa.
Merengkuh rembulan malam nan jelita.
Mungkin ingin ini kan tetap sekedar ingin.
Karena aku tak memiliki sepasang sayap.

Sanggupkah aku tuk merasai lembut nya awan.
Seperti burung yang menari nari membelah sang bayu.
Menjemput keindahan karunia sang Pencipta.
Bebas lepas mengarungi kolong langit tak berbatas.

Pinjami aku sayap indah mu.
Ku ingin terbang dan bebas dari galau hati.
Mengejar matahari dan membakar diri.
Semua aral yang akan ku pungkiri.

Ths '98
231202

Labels