Perpisahan

Waktu terus berjalan.
Dan tak terasa kita kan terpisah.
Lalu kini, hitungan hari telah dimulai.
Memuju saat saat perpisahan.

Apa yang bisa kita lakukan.
Demi waktu yang tersisa.
Mencoba tuk menoreh kenangan indah.
Kembali menjadi pelipur hati.

Kasih....
Mengapa ini harus terjadi.
Apakah perpisahan ini akan datang.
Dikala kita masih saling membutuhkan.

Sayang....
Ini mungkin hanya sementara.
Janji ku padamu, mungkin tak bisa ku tepati.
Entah kapan kan bersama lagi.

Ths '98
240902

Bunda

Kini kurasakan matahari tak lagi bersahabat.
Langit pun seakan runtuh menimpa tanah kering ini.
Bintang bintang tak lagi ingin menemani malam.
Hingga hujan tak mau beranjak turun hampiri haus ku.

Ketika rasa ini berlari mengejar waktu yang bergulir kencang.
Langkahku berat tak termakan aral terjal jalan ku.
Mengais harapan yang tertindas keinginan semu.
Koyak jala impian terajut berabad waktu ku.

Doa mu adalah bait bait lagu terindah sertai perjalanan.
Restu mu bagai roda mempercepat pengembaraan.
Kasih mu tak lekang oleh waktu dan setia menemaniku.
Hadir mu adalah anugrah terbesar dalam hidupku.

Terima kasih Bunda.
Atas segala pengorbanan mu.
Tanpa mu, tak akan aku menghirup udara kehidupan.
Tanpa mu, tak akan aku mampu berjalan melewati sang waktu.
Tanpa mu, tak akan aku bisa menyaksikan keindahan dunia ini.

Terima kasih Bunda.
Aku selalu menyayangi dan mengasihimu.
Walau hari hari ku tak mampu tuk membalas semua pengorbanan mu.
Ku kan tetap setia mendampingimu.

Ths '98
220501

Aku

Terabaikan kesetiaan semu.
Menuai benih bukannya buah.
Terlantar di tepian belantara senja.
Terbuang dalam samudra tanpa tepi.

Patah dan tak pernah tumbuh.
Retak yang tak tersambung.
Hampa ku tek terisi.
Menanti fajar tuk menggapai sang surya.

Liku terjal perjalananku.
Berada diantara jurang takdir.
Aral melintang dihadapan.
Kapan kan kuakhiri kelanaku.

Ths ‘98
010198

Labels